Sevendailynews.com – Munafik: Melawan Iblis menjadi salah satu film horor religi Indonesia yang tayang di bioskop pada September 2026. Film ini merupakan adaptasi dari film Malaysia Munafik (2016) karya Syamsul Yusof, tetapi cerita dan pendekatannya disesuaikan dengan latar sosial serta budaya Indonesia. Disutradarai oleh Guntur Soeharjanto, film ini menghadirkan Arya Saloka, Acha Septriasa, Dimas Aditya, Donny Damara, Nova Eliza, Muhammad Faqih Alaydrus, dan Widi Dwinanda.
Dengan durasi 103 menit, Munafik: Melawan Iblis menggabungkan unsur horor, drama, ruqyah, gangguan supernatural, dan pergulatan batin seorang ustaz yang masih dihantui kehilangan orang terdekat. Lembaga Sensor Film (LSF) mengklasifikasikan film ini untuk penonton 17 tahun ke atas dengan tema iman dan ketakutan menghadapi gangguan supernatural.
Lantas, seperti apa sinopsis Munafik: Melawan Iblis? Apakah film ini berhasil memberikan teror yang efektif? Dan bagaimana kualitas akting Arya Saloka serta Acha Septriasa? Berikut ulasan lengkapnya.
Baca Juga: Sinopsis dan Review Film Resident Evil: Horor, Zombie, dan Ketegangan di Dunia Umbrella Corporation
Identitas Film Munafik: Melawan Iblis
Sebelum masuk ke sinopsis dan review, berikut informasi dasar mengenai film Munafik: Melawan Iblis:
| Informasi | Detail |
|---|---|
| Judul | Munafik: Melawan Iblis |
| Tahun | 2026 |
| Genre | Horor, Drama |
| Sutradara | Guntur Soeharjanto |
| Penulis skenario | M. Ali Ghifari, Syamsul Yusof |
| Durasi | 103 menit |
| Tanggal tayang | 3 September 2026 |
| Negara | Indonesia |
| Pemeran | Arya Saloka, Acha Septriasa, Dimas Aditya, Donny Damara, Nova Eliza, Widi Dwinanda, Muhammad Faqih Alaydrus |
| Produksi | Unlimited Production, Skop Productions |
| Klasifikasi | D17 |
Data produksi dan klasifikasi tersebut tercatat dalam panduan film LSF.
Sinopsis Film Munafik: Melawan Iblis
Film Munafik: Melawan Iblis berpusat pada Adam, yang diperankan oleh Arya Saloka. Adam adalah seorang pengajar agama sekaligus praktisi ruqyah. Ia dikenal mampu membantu orang-orang yang mengalami gangguan supernatural.
Namun, kehidupan Adam berubah setelah sebuah tragedi besar menimpa keluarganya.
Dalam perjalanan pulang setelah membantu sebuah keluarga menangani gangguan gaib, Adam mengalami kecelakaan. Istrinya, Aini, meninggal dunia dalam tragedi tersebut. Kehilangan itu meninggalkan luka yang sangat dalam bagi Adam.
Alih-alih melanjutkan aktivitasnya sebagai peruqyah, Adam memilih meninggalkan dunia tersebut. Ia berusaha menjalani kehidupan seperti orang biasa dan menjauh dari praktik ruqyah yang sebelumnya menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Masalah kembali muncul ketika Fitri, diperankan oleh Acha Septriasa, mengalami serangkaian kejadian aneh. Fitri merupakan seorang perawat yang mengalami gangguan misterius hingga beberapa kali mengalami kesurupan.
Adam awalnya enggan membantu. Trauma atas kematian Aini membuatnya tidak ingin kembali berurusan dengan hal-hal supernatural. Akan tetapi, keadaan Fitri dan permintaan orang-orang di sekitarnya akhirnya membuat Adam kembali berhadapan dengan dunia ruqyah.
Seiring penyelidikan berlangsung, Adam menyadari bahwa gangguan yang dialami Fitri bukan sekadar kasus kesurupan biasa. Ada misteri yang lebih besar di balik berbagai kejadian tersebut.
Di sinilah cerita Munafik: Melawan Iblis mulai berkembang menjadi perpaduan antara horor supernatural dan misteri. Adam bukan hanya harus menghadapi gangguan yang sulit dijelaskan secara logika, tetapi juga dipaksa berhadapan dengan luka masa lalu dan pergulatan batin yang selama ini ia pendam.
Dengan kata lain, konflik utama film ini berjalan pada dua sisi. Di satu sisi Adam berusaha membantu Fitri menghadapi gangguan gaib. Di sisi lain, ia harus menghadapi dirinya sendiri.
Munafik: Melawan Iblis Bukan Sekadar Film Horor
Salah satu hal yang cukup menonjol dari Munafik: Melawan Iblis adalah penggunaan unsur religi sebagai bagian dari konflik karakter.
Adam bukan tipikal tokoh utama horor yang sejak awal digambarkan sebagai sosok tanpa rasa takut. Sebaliknya, ia memiliki luka emosional yang membuatnya justru menjauh dari aktivitas yang sebelumnya ia jalani.
Konsep tersebut membuat konflik Adam terasa lebih personal.
Gangguan supernatural yang dihadapi Adam sekaligus menjadi jalan bagi film untuk membicarakan soal kehilangan, rasa bersalah, keimanan, dan keberanian menghadapi masa lalu.
LSF sendiri mencatat bahwa tema film ini berkaitan dengan iman dan ketakutan dalam menghadapi gangguan supernatural.
Pendekatan seperti ini sebenarnya cukup menarik karena membuat teror tidak hanya bergantung pada penampakan makhluk gaib atau jumpscare.
Review Film Munafik: Melawan Iblis
1. Arya Saloka Mampu Membawa Karakter Adam
Salah satu kekuatan film berada pada penampilan Arya Saloka sebagai Adam.
Karakter Adam membutuhkan dua sisi sekaligus. Ia harus terlihat sebagai sosok yang memahami agama dan ruqyah, tetapi pada saat yang sama harus mampu memperlihatkan seseorang yang sedang berduka dan belum sepenuhnya pulih dari tragedi.
Beberapa ulasan terhadap film ini menilai Arya cukup meyakinkan dalam memperlihatkan sisi tersebut. Karakter Adam tidak dibuat sebagai tokoh yang selalu percaya diri menghadapi gangguan supernatural. Ada keraguan dan beban emosional yang menyertainya.
Hal ini penting karena membuat karakter utama terasa lebih manusiawi.
Adam bukan hanya “ustaz yang melawan iblis”. Ia juga seorang suami yang kehilangan pasangan dan seseorang yang harus mencari cara untuk berdamai dengan masa lalunya.
2. Acha Septriasa Menjadi Salah Satu Daya Tarik Utama
Jika Arya Saloka mendapatkan porsi besar untuk membangun karakter melalui drama, Acha Septriasa mendapatkan tantangan berbeda sebagai Fitri.
Fitri harus melalui berbagai situasi yang berkaitan dengan gangguan supernatural. Karena itu, akting fisik dan ekspresi menjadi bagian penting dari karakter tersebut.
Sejumlah ulasan menyoroti permainan gestur Acha ketika Fitri mengalami kerasukan. Perubahan fisik dan ekspresinya menjadi salah satu elemen yang membantu menciptakan suasana tidak nyaman dan menegangkan.
Kehadiran Acha juga membuat dinamika antara Fitri dan Adam menjadi pusat perhatian film.
3. Atmosfer Horornya Lebih Mengandalkan Ketegangan
Munafik: Melawan Iblis tidak sepenuhnya bergantung pada jumpscare.
Film menggunakan ruqyah, kesurupan, suasana pedesaan, dan misteri untuk membangun ketegangan. Beberapa adegan antara Adam dan Fitri bahkan terasa seperti psychological horror karena ketegangannya muncul dari situasi dan ekspresi karakter, bukan semata-mata dari kemunculan makhluk gaib.
Pendekatan ini membuat film memiliki ritme horor yang cukup beragam.
Ada adegan yang mengejutkan, tetapi ada pula bagian yang sengaja dibuat lebih sunyi dan lambat untuk membangun rasa tidak nyaman.
Bagi penonton yang menyukai horor religi dengan suasana gelap, pendekatan seperti ini bisa menjadi salah satu daya tarik film.
4. Nuansa Indonesia Terasa Lebih Kuat
Sebagai adaptasi film Malaysia, tantangan terbesar Munafik: Melawan Iblis adalah bagaimana membawa cerita tersebut ke konteks Indonesia.
Film ini mencoba menjawab tantangan tersebut melalui latar pedesaan, kehidupan masyarakat lokal, praktik ruqyah, serta kepercayaan terhadap gangguan supernatural.
Beberapa ulasan menyebut adaptasi ini memiliki kearifan lokal dan identitas Indonesia yang cukup terasa. Film tidak sekadar memindahkan cerita asli ke Indonesia, tetapi juga mencoba menyesuaikan atmosfer dan konteks sosialnya.
Hal tersebut membuat Munafik: Melawan Iblis memiliki identitas tersendiri meskipun berasal dari materi film Malaysia.
5. Unsur Misterinya Menarik
Selain horor religi, film ini juga memasukkan elemen misteri.
Penonton diajak mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi pada Fitri dan mengapa berbagai kejadian aneh muncul di sekitarnya.
Konsep ini membuat film tidak hanya berbicara tentang “siapa yang kerasukan”, tetapi juga mengajak penonton mengikuti rangkaian informasi untuk memahami hubungan antara karakter dan kejadian supernatural.
Mariviu bahkan menggambarkan pendekatan tersebut sebagai gaya whodunnit, sehingga unsur misteri menjadi bagian penting dari daya tarik cerita.
Pendekatan tersebut membuat paruh awal film terasa cukup efektif dalam menjaga rasa penasaran.
Kekurangan Film Munafik: Melawan Iblis
Meskipun memiliki sejumlah kekuatan, film ini bukan tanpa kelemahan.
1. Cerita Terlalu Melebar di Bagian Akhir
Salah satu kritik yang muncul dari beberapa ulasan adalah struktur cerita yang semakin melebar menjelang akhir.
Pada awalnya, konflik terasa cukup fokus pada Adam, Fitri, dan gangguan supernatural yang dialami Fitri. Namun, semakin mendekati akhir, muncul karakter, konflik, dan plot twist tambahan.
Akibatnya, fokus cerita menjadi sedikit berkurang.
Penonton yang sudah mengikuti konflik utama bisa saja merasa bahwa beberapa informasi tambahan justru membuat cerita menjadi lebih rumit daripada yang diperlukan.
Teater.co juga menyoroti bahwa bertambahnya karakter dan konflik membuat fokus film terpecah.
2. Tema “Munafik” Tidak Terlalu Mendalam
Judul Munafik: Melawan Iblis tentu membuat penonton memiliki ekspektasi terhadap pembahasan mengenai kemunafikan.
Namun, beberapa ulasan menilai tema tersebut tidak digali sedalam film Munafik versi Malaysia.
Film Indonesia ini justru lebih banyak menekankan trauma Adam, kehilangan, misteri, serta unsur horornya.
Hal tersebut sebenarnya bukan berarti pendekatan film sepenuhnya keliru. Hanya saja, penonton yang berharap tema kemunafikan menjadi pusat cerita mungkin akan menemukan bahwa porsinya relatif lebih kecil.
3. Beberapa Karakter Pendukung Kurang Mendapat Eksplorasi
Selain Adam dan Fitri, film menghadirkan sejumlah karakter penting lainnya.
Donny Damara dan Nova Eliza, misalnya, membawa karakter yang memiliki sisi ambigu sehingga dapat menambah rasa penasaran.
Namun, ruang pengembangan karakter mereka dianggap masih terbatas.
Karena film sudah memiliki banyak konflik, sebagian karakter pendukung akhirnya lebih berfungsi untuk menggerakkan cerita daripada benar-benar mendapatkan perkembangan karakter yang mendalam.
Baca Juga: Spider-Man: Brand New Day: Sinopsis, Review, Pemeran, dan Apa yang Membuat Film Ini Berbeda
Perbandingan dengan Film Munafik 2016
Munafik: Melawan Iblis merupakan adaptasi resmi dari film Malaysia Munafik karya Syamsul Yusof yang dirilis pada 2016. Versi Indonesia ini ditulis oleh M. Ali Ghifari bersama Syamsul Yusof dan menyesuaikan karakter serta pendekatan produksinya dengan konteks Indonesia.
Namun, keduanya tidak sepenuhnya memiliki fokus yang sama.
Film Malaysia lebih kuat dalam menjadikan tema kemunafikan dan persoalan keimanan sebagai bagian dari fondasi cerita. Sementara itu, Munafik: Melawan Iblis lebih menonjolkan unsur trauma kehilangan, misteri, dan horor supernatural.
Dengan demikian, versi Indonesia ini lebih tepat dilihat sebagai adaptasi yang mencoba membangun identitas sendiri daripada sekadar menyalin film aslinya.
Apakah Munafik: Melawan Iblis Layak Ditonton?
Bagi penggemar film horor religi Indonesia, Munafik: Melawan Iblis menawarkan kombinasi yang cukup menarik antara teror supernatural, ruqyah, drama keluarga, dan misteri.
Kekuatan utamanya terletak pada atmosfer, penampilan Arya Saloka dan Acha Septriasa, serta upaya memasukkan nuansa lokal Indonesia. Film juga memiliki konflik personal melalui karakter Adam sehingga ceritanya tidak hanya berputar pada gangguan gaib.
Di sisi lain, penonton perlu mengetahui bahwa cerita menjadi semakin kompleks menjelang akhir. Beberapa konflik tambahan dan twist membuat alurnya sedikit kehilangan fokus. Tema “munafik” juga tidak menjadi pembahasan sedalam yang mungkin diharapkan dari judulnya.
Secara keseluruhan, Munafik: Melawan Iblis menawarkan horor religi dengan identitas Indonesia yang cukup kuat, terutama bagi penonton yang menyukai film tentang ruqyah, kesurupan, dan pergulatan iman.
Film ini tayang di bioskop Indonesia mulai 3 September 2026 dengan durasi 103 menit dan klasifikasi D17.
Kesimpulan
Munafik: Melawan Iblis membawa formula horor religi dari film Malaysia ke layar Indonesia dengan pendekatan yang lebih dekat dengan budaya lokal. Ceritanya mengikuti Adam, seorang praktisi ruqyah yang berhenti menjalankan profesinya setelah kehilangan istrinya, sebelum akhirnya kembali menghadapi dunia supernatural ketika Fitri mengalami gangguan misterius.
Dari sisi akting, Arya Saloka berhasil membawa sisi religius sekaligus emosional dari Adam, sementara Acha Septriasa memberikan salah satu penampilan yang menonjol melalui karakter Fitri.
Film ini juga cukup berhasil menciptakan atmosfer mencekam tanpa sepenuhnya mengandalkan jumpscare. Unsur misteri membuat penonton memiliki alasan untuk terus mengikuti cerita dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Meski demikian, naskah menjadi lebih ramai menjelang akhir. Bertambahnya karakter, konflik, dan twist membuat cerita sedikit kehilangan fokus. Tema kemunafikan yang menjadi identitas judul juga terasa tidak sedalam unsur trauma dan horornya.
Pada akhirnya, Munafik: Melawan Iblis merupakan film horor religi yang memadukan teror gaib dengan kisah tentang kehilangan dan pergulatan batin. Adaptasi ini mungkin tidak sepenuhnya mempertahankan fokus film aslinya, tetapi tetap berusaha menghadirkan pengalaman baru dengan latar dan konteks Indonesia.
