Sevendailynews.com – Christopher Nolan kembali ke layar lebar dengan sebuah proyek yang sejak awal terasa nyaris mustahil untuk diwujudkan. Setelah Oppenheimer, sutradara yang dikenal melalui film-film seperti Inception, Interstellar, Dunkirk, dan The Dark Knight memilih mengadaptasi salah satu karya sastra paling berpengaruh dalam sejarah: The Odyssey karya Homer. Hasilnya adalah sebuah film epik berdurasi sekitar tiga jam yang menggabungkan mitologi Yunani, peperangan, monster, perjalanan, tragedi keluarga, dan pertanyaan tentang arti pulang.
Dengan Matt Damon sebagai Odysseus, Anne Hathaway sebagai Penelope, Tom Holland sebagai Telemachus, Zendaya sebagai Athena, serta sejumlah nama besar lainnya, The Odyssey jelas dibuat dengan skala yang sangat besar. Namun, menariknya, Nolan tidak sekadar menjadikan kisah Homer sebagai tontonan petualangan spektakuler. Ia menggunakan perjalanan Odysseus untuk membahas trauma perang, rasa bersalah, keluarga, identitas, dan perubahan manusia setelah melewati pengalaman yang mengerikan.
Baca Juga: Anyone But You: Romansa Benci Jadi Cinta Modern!!?
Kisah Perjalanan Pulang yang Tidak Sederhana
Secara sederhana, The Odyssey bercerita tentang Odysseus, seorang raja dan prajurit yang berusaha kembali ke rumah setelah Perang Troya. Masalahnya, perjalanan pulang tersebut tidak berlangsung seperti perjalanan biasa. Odysseus dan anak buahnya harus menghadapi berbagai ancaman, mulai dari monster hingga kekuatan supernatural, sementara di rumah Penelope dan putranya, Telemachus, harus menghadapi ketidakpastian mengenai nasib sang raja.
Namun, film Nolan tidak melihat perjalanan tersebut hanya sebagai petualangan dari satu pulau ke pulau lain. Perjalanan fisik Odysseus menjadi representasi perjalanan psikologis seorang manusia yang telah berubah akibat perang.
Inilah salah satu keputusan paling menarik dalam film. Odysseus bukan sekadar pahlawan yang harus mengalahkan monster dan menemukan jalan pulang. Ia adalah seseorang yang membawa beban masa lalu. Perang telah membentuk dirinya, tetapi juga menghancurkan sebagian dari dirinya.
The Guardian bahkan membaca film ini sebagai kisah tentang disorientasi pascaperang dan trauma yang membuat seseorang membutuhkan waktu sangat panjang untuk benar-benar “pulang”, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional dan spiritual.
Pendekatan tersebut membuat The Odyssey terasa lebih relevan daripada yang mungkin diperkirakan. Walaupun latarnya adalah dunia Yunani kuno, persoalan yang dibicarakan sangat modern: bagaimana seseorang kembali kepada keluarganya setelah mengalami sesuatu yang mengubah hidupnya?
Matt Damon sebagai Odysseus
Salah satu faktor terbesar yang menentukan keberhasilan film ini adalah Matt Damon. Sebagai Odysseus, Damon tidak memainkan karakter yang sekadar gagah dan heroik. Ia memberikan kesan seorang pemimpin yang kelelahan, penuh perhitungan, tetapi juga dihantui oleh keputusan-keputusan masa lalu.
Karakter tersebut memang berbeda dari gambaran pahlawan tradisional yang selalu percaya diri. Odysseus versi Nolan lebih terasa seperti manusia yang sedang berusaha bertahan hidup.
Hal ini menjadi penting karena kisah The Odyssey sebenarnya bukan hanya tentang kemenangan. Odysseus memang seorang ahli strategi dan pemimpin yang cerdas, tetapi kecerdasannya sering kali memiliki konsekuensi. Keputusan-keputusan yang ia ambil untuk menyelamatkan dirinya dan anak buahnya dapat menciptakan masalah baru.
Dengan demikian, Damon tidak harus menjadikan Odysseus sebagai karakter yang selalu disukai penonton. Ia cukup membuat kita memahami manusia di balik legenda tersebut.
Los Angeles Times melihat versi Odysseus ini sebagai sosok yang sekaligus menjadi saksi dan salah satu penyebab kehancuran dunianya sendiri.
Christopher Nolan dan Obsesi tentang “Pulang”
Jika diperhatikan, The Odyssey sebenarnya terasa seperti perkembangan alami dari film-film Nolan sebelumnya.
Interstellar berbicara tentang seorang ayah yang harus meninggalkan keluarganya dan berusaha kembali. Inception membahas seseorang yang hidup dalam bayang-bayang masa lalu dan memiliki keinginan kuat untuk pulang. Dunkirk menggambarkan manusia yang berusaha bertahan hidup dalam situasi perang. Bahkan film-film Nolan lainnya berkali-kali menghadirkan karakter yang harus melewati penderitaan sebelum mendapatkan kesempatan untuk kembali atau menebus kesalahan.
Karena itu, The Odyssey terasa seperti titik temu berbagai tema yang telah dikerjakan Nolan selama puluhan tahun.
Time Out bahkan menilai bahwa Nolan sebenarnya sudah “mengulang” kisah The Odyssey dalam berbagai bentuk sepanjang kariernya. Dalam konteks tersebut, adaptasi Homer ini terasa seperti proyek yang akhirnya menyatukan berbagai obsesinya menjadi satu film.
Namun, Nolan tidak membuat film yang sepenuhnya bergantung pada nostalgia terhadap karya-karyanya terdahulu. Ia tetap memberikan identitas tersendiri melalui dunia mitologi Yunani.
Visual yang Dirancang untuk Layar Lebar
Kalau ada satu hal yang hampir pasti akan menjadi bahan pembicaraan setelah menonton The Odyssey, jawabannya adalah skala visual.
Nolan dikenal sebagai sutradara yang memiliki kecenderungan kuat terhadap penggunaan kamera IMAX dan efek praktis. Untuk film sebesar ini, pendekatan tersebut terasa sangat tepat. Dunia Yunani kuno ditampilkan bukan sebagai latar belakang dekoratif, tetapi sebagai ruang yang terasa luas, kasar, dan berbahaya.
Lanskap, kapal, peperangan, monster, dan berbagai lokasi perjalanan memberikan kesan bahwa penonton sedang menyaksikan sebuah legenda yang benar-benar terjadi.
The Guardian memuji penggunaan lanskap berskala IMAX serta adegan peperangan dan pertarungan yang dirancang dengan intensitas tinggi.
Yang membuat pendekatan visual tersebut semakin efektif adalah keputusan Nolan untuk tidak menjadikan semuanya sekadar efek digital. Ada sesuatu yang terasa lebih konkret ketika dunia fantasi dibangun melalui set, kostum, lokasi, dan efek praktis.
Itulah sebabnya The Odyssey merupakan jenis film yang paling tepat ditonton di bioskop. Layar kecil mungkin masih mampu menyampaikan cerita dan dialognya, tetapi sebagian besar kekuatan film ini berada pada pengalaman visual dan suara yang hanya benar-benar terasa ketika skalanya besar.
Para Karakter Pendukung
Selain Odysseus, Penelope dan Telemachus memainkan peran penting dalam membangun sisi emosional cerita.
Anne Hathaway sebagai Penelope menghadirkan karakter yang berada dalam situasi sulit. Sementara Odysseus melakukan perjalanan di laut, Penelope harus menghadapi kehidupan yang berhenti dalam ketidakpastian. Ia tidak tahu kapan, atau bahkan apakah, suaminya akan kembali.
Situasi tersebut menciptakan salah satu pertanyaan emosional utama film: apakah seseorang yang menunggu masih menjadi orang yang sama ketika orang yang ditunggunya akhirnya pulang?
Tom Holland sebagai Telemachus juga memberikan perspektif berbeda. Jika Odysseus adalah seorang ayah yang pergi meninggalkan rumah, Telemachus adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayahnya.
Dengan demikian, perjalanan dalam film tidak hanya milik Odysseus. Penelope dan Telemachus juga memiliki “odyssey” mereka sendiri.
Sementara itu, Zendaya sebagai Athena membawa unsur mitologi yang lebih kuat. Namun, salah satu keputusan Nolan yang cukup kontroversial adalah mengurangi kehadiran para dewa dibandingkan versi Homer.
Tidak Sepenuhnya Setia kepada Homer
Inilah bagian yang kemungkinan besar akan memicu perdebatan di antara penonton.
The Odyssey bukan adaptasi yang mencoba memindahkan puisi Homer ke layar secara harfiah. Nolan melakukan berbagai perubahan, pengurangan, dan penafsiran ulang.
The Guardian mencatat bahwa mengubah puisi sepanjang ribuan baris menjadi film sekitar tiga jam memang membutuhkan banyak pemangkasan. Sejumlah karakter, adegan, dan unsur cerita dihilangkan atau diubah, sementara beberapa bagian mendapatkan interpretasi baru.
Perubahan terbesar mungkin terlihat pada cara film memperlakukan dunia para dewa.
Dalam karya Homer, para dewa memiliki peran yang sangat besar. Mereka bukan sekadar simbol atau latar belakang, tetapi aktif memengaruhi kehidupan manusia. Nolan justru membuat dunia tersebut terasa lebih dekat dengan perspektif manusia.
The New Yorker bahkan menilai bahwa para dewa dalam versi Nolan sebagian besar “ditinggalkan” dari pusat cerita, sehingga adaptasinya lebih terasa sebagai kisah manusia daripada representasi dunia mitologi Yunani secara utuh.
Bagi penonton umum, keputusan tersebut mungkin membuat film lebih mudah diikuti. Namun, bagi pembaca Homer yang mengharapkan adaptasi yang lebih setia, pilihan ini bisa terasa mengecewakan.
Kelebihan: Ambisi yang Jarang Terlihat
Kekuatan terbesar The Odyssey adalah keberaniannya.
Di tengah dominasi film waralaba, superhero, sekuel, dan remake, Nolan memilih membuat blockbuster berdasarkan puisi kuno yang telah bertahan selama ribuan tahun.
Film ini menunjukkan bahwa cerita klasik masih bisa menjadi tontonan populer tanpa harus mengubahnya menjadi produk waralaba.
Secara teknis, film ini juga sangat kuat. Sinematografi, desain produksi, musik, kostum, efek praktis, dan koreografi peperangan bekerja sama menciptakan sebuah dunia yang terasa monumental.
Film ini juga berhasil menunjukkan bahwa cerita kuno tidak harus dibuat terasa kuno. Tema tentang keluarga, perang, rasa kehilangan, dan keinginan untuk kembali ke rumah tetap relevan bagi penonton modern.
Tidak mengherankan jika film ini mendapatkan respons komersial yang sangat kuat. Pada September 2026, The Odyssey telah mencapai sekitar US$1,6 miliar secara global dan menjadi film Nolan dengan pendapatan tertinggi.
Baca Juga:
Review Past Lives: Kisah Cinta yang Tak Terlupakan
Kekurangan: Terlalu Besar untuk Menjadi Intim
Namun, The Odyssey bukan film tanpa kelemahan.
Masalah utamanya justru berasal dari ambisinya sendiri.
Dengan begitu banyak karakter, lokasi, peristiwa, dan tema yang harus dimasukkan ke dalam durasi sekitar tiga jam, beberapa bagian terasa kurang mendapatkan ruang emosional yang cukup.
Variety menggambarkan film ini sebagai epik yang sangat besar dan mendebarkan, tetapi juga memiliki jarak emosional tertentu.
Ada pula kritik bahwa versi Nolan membuat Odysseus menjadi lebih mudah dipahami oleh penonton modern, tetapi sekaligus mengurangi sebagian sisi licik, egois, dan ambigu dari karakter aslinya.
Ini merupakan persoalan penting. Odysseus dalam karya Homer bukan hanya seorang pahlawan. Ia juga seorang manusia yang penuh kontradiksi. Ia bisa cerdas sekaligus arogan, penuh kasih sayang sekaligus kejam, dan mampu menunjukkan keberanian sekaligus melakukan manipulasi.
Jika sisi-sisi tersebut terlalu dikurangi, karakter Odysseus berisiko menjadi terlalu familiar: seorang pahlawan yang menderita, kehilangan banyak hal, lalu berusaha kembali kepada keluarganya.
Kesimpulan
Pada akhirnya, The Odyssey adalah film yang lebih mudah dikagumi daripada dicintai secara sederhana.
Ia terlalu besar, terlalu ambisius, dan terlalu penuh dengan gagasan untuk menjadi tontonan petualangan biasa. Christopher Nolan tidak hanya ingin menceritakan perjalanan Odysseus. Ia ingin menggunakan kisah tersebut untuk membicarakan perang, trauma, keluarga, rasa bersalah, ingatan, dan arti pulang.
Keputusan untuk tidak sepenuhnya mengikuti Homer mungkin akan memecah pendapat penonton. Penggemar sastra klasik mungkin mempertanyakan beberapa perubahan, sementara penonton umum kemungkinan justru akan menikmati cara Nolan membuat kisah ribuan tahun lalu terasa modern.
Namun, sebagai pengalaman sinematik, film ini sulit untuk diabaikan.
The Odyssey menunjukkan bahwa blockbuster masih bisa memiliki ambisi artistik yang besar. Ia mengingatkan bahwa cerita lama tidak menjadi usang hanya karena telah diceritakan berkali-kali. Yang berubah adalah cara manusia memandang cerita tersebut.
Odysseus mungkin telah pulang berkali-kali dalam berbagai versi selama ribuan tahun. Tetapi dalam tangan Christopher Nolan, perjalanan itu kembali terasa baru.
Rating: 4,5/5
The Odyssey adalah film yang paling tepat dinikmati di layar sebesar mungkin. Bukan hanya karena monster dan peperangannya, tetapi karena Nolan ingin membuat penonton merasakan betapa kecilnya manusia di tengah dunia yang begitu luas—dan betapa besarnya arti sebuah rumah ketika seseorang telah kehilangan segalanya dalam perjalanan untuk kembali ke sana.

