Sevendaily News – Kalau kamu lagi cari game yang beda dari kebanyakan platformer, Rage in Peace bisa jadi salah satu kejutan paling “nyebelin tapi nagih” yang pernah kamu mainkan. Game ini bukan sekadar lari-lari lompat menghindari rintangan, tapi juga tentang bagaimana kamu bisa mati berkali-kali dengan cara yang… kreatif banget.
Dirilis dengan gaya visual kartun yang simpel tapi penuh warna, game ini langsung menarik perhatian karena satu hal: kamu hampir pasti bakal gagal di setiap langkah pertama. Tapi justru di situlah letak keseruannya. Rage in Peace bukan game yang pengen bikin kamu menang cepat, tapi bikin kamu belajar dari kematian yang absurd.
Di Rage in Peace, kamu mengendalikan karakter bernama Timmy Malinu, seorang pria kantoran yang cuma punya satu tujuan sederhana: mati dengan tenang di rumah sambil memakai piyama favoritnya.
Terdengar simpel, tapi kenyataannya? Jauh dari itu.
Sepanjang perjalanan pulang, kamu akan menghadapi berbagai rintangan yang muncul secara tiba-tiba. Mulai dari jebakan lantai, laser, benda jatuh, hingga kejadian random yang tidak bisa diprediksi sama sekali. Game ini mengandalkan trial and error sebagai inti gameplay-nya.
Yang bikin Rage in Peace beda adalah sistem “belajar dari kematian”. Setiap kali kamu mati, kamu akan mengingat pola jebakan di level tersebut. Jadi meskipun awalnya frustrasi, lama-lama kamu mulai paham ritme game ini.
Selain itu, ada elemen rhythm di beberapa bagian, di mana kamu harus bergerak mengikuti musik atau timing tertentu. Ini bikin gameplay terasa lebih hidup dan tidak monoton.
Cerita di Rage in Peace sebenarnya tidak terlalu kompleks, tapi cukup unik. Fokusnya lebih ke perjalanan emosional Timmy yang cuma ingin hidup tenang, tapi semesta seperti menolaknya dengan cara paling absurd.
Humor gelap jadi bumbu utama di sini. Banyak momen yang bikin kamu ketawa sekaligus kesel.
Game ini menggunakan gaya 2D side-scrolling dengan visual kartun. Jangan berharap grafis super realistis, tapi justru kesederhanaan inilah yang bikin Rage in Peace enak dilihat.
Animasi kematian juga dibuat kreatif, kadang konyol, kadang brutal, tapi tetap menghibur.
Soundtrack di game ini cukup standout. Musiknya berubah sesuai suasana, dari tenang sampai intens ketika rintangan mulai muncul. Ini membantu banget dalam membangun tensi gameplay.
Kalau dibandingkan dengan game platformer lain seperti Super Meat Boy atau Celeste, Rage in Peace punya pendekatan yang berbeda.
Kalau game lain bikin kamu merasa “salah karena kurang skill”, Rage in Peace lebih ke “kamu mati bukan karena kamu buruk, tapi karena game ini memang jahil”.
Itulah kenapa pengalaman mainnya terasa unik.
Jangan berharap bisa langsung lolos di percobaan pertama. Anggap saja setiap kematian adalah bagian dari pembelajaran.
Sebagian besar jebakan punya pola tertentu. Setelah beberapa kali mati, kamu akan mulai mengenali ritmenya.
Jangan cuma fokus ke karakter. Kadang petunjuk rintangan ada di background atau animasi kecil.
Beberapa bagian game sangat bergantung pada timing musik. Jadi jangan main sambil mute audio.
Banyak jebakan justru muncul saat kamu terlalu cepat bergerak. Santai saja, tapi tetap waspada.
Cocok, tapi harus siap mental. Karena game ini cukup sering bikin frustrasi.
Sekitar 3–6 jam tergantung seberapa cepat kamu belajar pola rintangan.
Tidak terlalu serius. Lebih ke humor gelap dengan pesan sederhana tentang kehidupan dan kematian.
Ya, tingkat kesulitannya cukup tinggi karena banyak jebakan tak terduga.
Kalau kamu suka game unik, penuh tantangan, dan tidak masalah dengan trial and error, maka sangat worth it.
Rage in Peace adalah game yang mungkin bukan untuk semua orang, tapi justru di situlah daya tariknya. Game ini berani tampil beda dengan konsep kematian berulang, humor gelap, dan kejutan di setiap langkah.
Walaupun bisa bikin frustrasi, justru rasa “kesal tapi penasaran” itulah yang bikin kamu terus balik lagi ke game ini. Setiap kegagalan bukan akhir, tapi bagian dari perjalanan Timmy menuju “kematian yang damai”.
Kalau kamu bosan dengan platformer yang itu-itu saja, Rage in Peace bisa jadi pengalaman yang segar, nyeleneh, dan cukup memorable.
Intinya, game ini bukan soal menang atau kalah—tapi soal berapa kali kamu bisa tertawa di tengah kekacauan yang terjadi.
SevenDaily News - Film Indonesia beberapa tahun terakhir semakin berani mengangkat tema keluarga dengan pendekatan…
Sevendaily News - Kalau kamu lagi kepikiran buat pindah ke motor listrik tapi masih ragu…
Sevendaily News - Kalau kamu pernah membayangkan jadi kepala sekolah… tapi sekolahnya isinya calon pahlawan…
SevenDaily News - Film komedi Indonesia selalu punya tempat tersendiri di hati penonton. Di tengah…
Sevendaily News - Motor listrik semakin mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia. Selain lebih ramah…
Sevendaily News - Kalau kamu penggemar game RPG klasik dengan nuansa cerita yang kuat dan…